Setelah Yesus diruwat oleh Yohanes Pemandi, Yesus berniat tirakat. Berpuasa dan menyepi di padang gurun selama 40 hari. Minggu pertama aktivitas Yesus mengumpulkan kayu-kayu dan dedaunan untuk membuat sebuah gubuk kecil. Dikumpulkan pula dahan-dahan kering, untuk berdiang, mengusir dinginnya udara malam.
Dalam waktu seminggu Yesus menyelesaikan gubuknya yang sederhana. Siang itu terik matahari sangat menyengat. Yesus merasa cape, haus dan lapar.
Saat itu seorang setengah tua, rupanya seorang pengembara, lewat di depan gubuk Yesus. Karena teriknya matahari ia berniat meneduh di gubuk itu. Ia melongok ke dalam gubuk, katanya. “Mas…Boleh saya masuk? Di luar panas banget”
“Silakan pak..Tapi tempatnya sempit..” Jawab Yesus.
“Ga apa-apa.. Yang penting tidak kepanasan.” Jawab pengembara itu sambil meletakkan barang bawaannya. Lalu membongkar barang bawaannya, mengeluarkan minuman dan roti. Ia menuangkan air ke cangkir. ”Aku habis menyusuri padang pasir. Aku haus banget.” Sebelum menenggak minuman itu ia melirik ke Yesus. Lalu melihat sekeliling. Gubuk itu kosong. Tak ada persediaan makanan atau pun minuman. Ia menyodorkan cangkir itu ke Yesus. “Nih kalau mau minum. Silakan. Aku membawa bekal cukup banyak.”
Yesus tersenyum.. “ Tidak…terima kasih..”
“Ah… nggak enak aku minum sendirian. Ayolah.. Hari panas sekali.”Desak pengembara itu.
“Silakan minum.. sampeyan kelihatan sangat kehausan.” Jawab Yesus tetap sambil tersenyum.
Lelaki setengah tua itu menyodorkan bekalnya. “ Siang ini sangat panas. Eh.. Kalau nggak mau minum…Nih makan roti saja.”
“Enggak pak.. Terima kasih.” Jawab Yesus.
“Wah jadi nggak enak aku ini. Mimun dan makan sendirian. Ayolah cicipi rotinya saja. Ini buatan tukang roti yang terkenal lho.” Kata lelaki setengah tua itu sambil menyodorkan sepotong roti.
Yesus menggelengkan kepalanya. “Tidak usah… Untuk sampeyan saja”.
Sambil menikmati roti, pengembara itu memandangi Yesus. ”Namamu siapa mas?
“Yesus..”
“Asalmu?”
“Nasaret.”
“Lho.. Nasaret kan lumayan jauh dari sini..” Lelaki tua itu melihat sekeliling lagi. Tak ada benda apa-apa, selain dedaunan yang disusun untuk alas tidur.
“Mas Yesus sudah berapa hari di sini?”
“Seminggu pak..”
“Oh… sampeyan minggat dari rumah ya?” Tebak si pengembara itu sambil meman-dangi Yesus lalu melanjutkan pertanyaannya.”Ada persoalan apa sih?”
“Saya tidak minggat pak.” Jawab Yesus pelan.
“Sampeyan sudah seminggu sendirian di gubuk ini? Tanpa persediaan makan dan minum. Itu pasti minggat!” Kata lelaki setengah tua itu ngotot.
“Saya memang sendang menghindar dari keramaian. Juga mengghindari makan dan minum.” Jawab Yesus tenang.
“Hei..! Sampeyan harus makan mas. Supaya tetap hidup.” Kata pengembara itu.
“Ada tertulis. Manusia hidup bukan dari roti saja. Tetapi juga dari energi yang terpancar dari napas Allah.” Jawab Yesus lembut.
Lelaki setengah tua itu melongo mendengar apa yang diucapkan Yesus.Dan ia tidak tahuapa maksudnya.
Setelah itu terdengar burung Kedasih menyanyi:
Puasa memang perlu untuk memberi jeda pada pencernaan
Memberi jeda bagi yang memiliki kebiasaan ngemil.
Memberi kesempatan untuk peremajaan sel dalam tubuhmu.
Sesungguhnya dalam 24 jam makan kenyang sekali itu sudah cukup.
Dan apa bila engkau berpuasa,
jangan muram seperti orang munafik.
mengubah raut mukanya,
supaya orang tahu bahwa dia sedang berpuasa.
Apabila engkau berpuasa,
tampillah segar muka dan hatimu.
Supaya orang tidak tahu bahwa engkau berpuasa.
Piiip.. piiip.. piiip.. piiip… pip pip pip ipip pip pip pip…!”
Mendengar ucapan Yesus dan nyanyian burung Kedasih, pengembara itu sedikit gemetaran. Setelah memandangi Yesus, pengembara itu dengan cekatan membenahi barang bawaaannya. Ada perasaan aneh menjalar keseluruh tubuhnya. Ia segera pamitan dan bergegas meninggalkan gubuk itu.
Setiap malam setelah menyalakan api unggun kecil di luar gubuk. Yesus duduk tepekur. Memejamkan matanya. Melambatkan aliran napasnya.
Yesus mulai bergelut dengan liarnya pikiran.
Tiba-tiba muncul sosok hitam yang kepalanya bertanduk, napasnya mengeluarkan hawa panas dan kilatan api. Sosok itu menyatakan dirinya sebagai Iblis. Ia mulai membuka kata dengan suara serak-berat, pelan, tapi sarat dengan nada intimidasi.“Apa yang kamu cari anak manusia? Kamu masih muda. Kenapa kamu sia-siakan waktumu? Melakukan sesuatu yang tidak produktif. Ayo ikutlah aku.. Dan sembahlah aku. Maka segala yang kamu inginkan, segala yang kamu impikan, segala yang kamu minta akan aku berikan secara cuma-cuma..”
“Enyahlah hai Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan Allahmu!”
Iblis terkekeh. “He he he… kamu ini kerjanya cuma lontang-lantung. Apa kamu tidak kuatir bagaimana masa depanmu nanti?Apa yang akan kamu makan. Apa yang akan kamu pakai?”
“Ada pula telah tertulis. Janganlah kuatir yang hendak kamu makan, akan kamu minum, dan apa yang akan kamu pakai. Bukankah hidup lebih penting dari itu semua? Lihatlah burung-burung di langit, tidak menanam-tidak menuai-tidak memiliki lumbung. Namun diberi makan oleh Bapaku. Bukankah manusia jauh melebihi burung-burung itu? Mengapa kamu kawatir akan pakaian? Lihatlah bunga bakung yang tumbuh tanpa memintal. Namun aku berkata kepadamu. Raja Solomon dalam segala kemegahannya tidak berpakaian seindah bunga itu. Bapamu tahu bahwa kamu memerlukan semuanya itu.Tetapi carilah dulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.”
“Halah! Itu semua belum nyata. Itu cuma kata-kata. Angin surgawi…” Desah si Iblis.
“Lewat tirakat inilah, nantinya Kerajaan Allah itu akan kualami akan menjadi suatu kenyataan”.
Saat itu juga sosok iblis lenyap.
Waktu bergulir terus.
Yesus tetap duduk diam dalam napas yang sangat-sangat lambat.
Waktu terus bergulir.
Yesus telah mencapai hari ke 40. Tubuhnya terkapar lemas.
Beberapa saat kemudian. Ketika membuka mata. Ia Melihat ke sekeliling. Ia takjub dan meneteskan air mata. Kemana pun ia berpaling yang dilihat adalah dirinya sendiri.
Terdengar burung Kedasih bernyanyi:
“Wahai… proses evolusi batin telah dilalui
Ia berhasil menafikan tubuhnya
Ia berhasil menyalurkan energi-penuh pada cittanya
ia telah bertemu dengan yang dicari
Ia telah mengenal jati dirinya
Inilah rahasia yang selama ini dirahasiakan.
“manusia telah bertransformasi menjadi Ilahi..”
“Piiip.. piiip.. piiip.. piiip… pip pip pip ipip pip pip pip…!”
Mpu Baryonim