Ketika Yesus berusia 30 tahun. Ia menuju ke sungai Yordan menemui Yohanes Pembabtis yang sedang medar sabdo di hadapan orang banyak. Yohanes Pembabtis, yang juga disebut Yahanes Pemandi merupakan teman seperguruan Yesus.

Tanpa sepengetahuan Yohanes, Yesus ikut dalam kerumunan itu. Ia berdiri di belakang orang orang sehingga tidak terlihat oleh Yohanes. Yesus mendengarkan khotbah Yohanes dengan seksama.

Burung Kedasih yang sejak tadi mengikuti perjalan Yesus hinggap di semak-semak yang tumbuh di pinggir sungai Yordan.

Yohanes Pemandi berdiri di tengah sungai yang dalamnya sampai sebatas puser Yohanes Pemandi. Dengan semangat yang berapi-api Yohanes medar sabdo: “Saudara-saudara sekalian. Bersiap-siap dan bertobatlah. Kerajaan Allah sudah dekat! Dekaaaat sekali. Lebih dekat dari urat batang leher kita!”

Salah satu dari orang yang berkerumun itu nyeletuk: “Bertobat itu apa Kisanak?”

“Bertobat itu artinya kita menyesali semua perbuatan yang tidak semestinya kita lakukan. Kemudian memiliki niat yang kuat untuk tidak mengulangi perbuatan itu.” Jawab Yohanes santai.

“Kenapa harus bertobat?” Celetuk yang lain lagi.

“Dengan bertobat kita bersih-bersih diri. Supaya nantinya kita pantas memasuki kerajaan Allah.” Jawab Yohanes sambil tersenyum, rupanya khalayak itu mulai tertarik dengan khotbahnya.

Dengan penasaran seseorang lain lagi bertanya: “Kita kan manusia, ngapain memasuki kerajaan Allah?”

Setelah tersenyum Yohanes menjawab. “Dengar baik-baik saudaraku. Apa kalian belum pernah mendengar berita, bahwa manusia itu adalah anak-anak Allah? Heh..?” Yohanes memandangi orang-orang yang mulutnya melongo mendengar penuturannya. Kemudian ia melanjutkan penjelasannya. “Kita semua ini adalah anak-anak Allah yang sedang tersesat di alam maya. Dan tidak tahu jalan pulang.” Yohanes diam lagi, memandangi reaksi orang-orang yang berkumpul di tepi sungai Yordan itu.

Salah satu dari kerumunan itu berteriak: “Kenapa tidak tahu jalan pulang Kisanak?”

“Banyak faktor yang menyebabkan seseorang tidak tahu jalan pulang. Antara lain, karena mata hatinya telah tertutupi hijab-hijab yang terdiri dari egoisme, kebodohan, keinginan yang berlebihan, berbagai identitas diri dan karma masa lalu dan lain sebagainya.” Jawab Yohanes dengan tegas dan tandas.

Salah seorang Farisi yang ikut di kerumunan itu merasa risih mendengar pernyataan itu, lalu bergumam. “Heh… aliran sesat macam apa lagi ini? Harus kulaporkan ke Imam Agung.” Orang Farisi itu secara pelan dan diam-diam beringsut pergi meninggalkan kerumunan itu.

Yohanes melanjutkan penjelasannya: ”Tentu akan muncul pertanyaan berikutnya. Bagaimana cara menyingkap hijab yang menutupi hati nurani kita? Nah… saudara-saudara sekalian yang saya sayangi. Untuk itulah aku hadir di sungai Yordan ini. Untuk melakukan pembersihan diri, dengan ritual ‘permandian’ atau ada yang menyebut ‘pembabtisan’. Di negeri timur nun jauh di sana, hal ini disebut ‘ruwatan’ atau ‘lukatan’. Upacara ini merupakan salah satu ritual pembersihan diri dari kekotoran lahir mau pun batin, yang kita kumpulkan di sepanjang hidup kita. Perlu kalian ketahui ritual Permandian yang biasa aku lakukan adalah ritual Permandian dengan Air dan Udara. Sedangkan nanti akan datang seseorang yang lebih mulia dariku. Membuka kasut kakinya pun aku tak layak. Dialah yang akan membersihkan kalian dengan Api dan Bumi.”

“Siapakah orang Kisanak maksudkan itu?” celetuk salah satu dari kerumuanan itu.

“Dialah adalah sosok yang telah diurapi. Dia disebut Sang Mesias.” Jawab Yohanes.

“Bukankah Kisanak Sang Mesias itu?” teriak seseorang yang lain lagi.

“Oh.. bukan! Tugasku hanya mempersiapkan jalan bagiNya.”

“Jadi Kisanak adalah yang dinubuatkan oleh nabi Yesaya yang mengatakan : “Ada suara yang berseru-seru di padang gurun. Mempersiapkan jalan bagi Miseas. Meluruskan jalan bagiNya.” 

Belum sempat Yohanes menanggapi pernyataan itu. Yesus melangkah memasuki sungai mendekati Yohanes.

Melihat Yesus datang mendekat. Yohaneskaget dan bermaksud memperkenalkan Yesus kepada khalayak. Tetapi sebelum Yohanes membuka mulut. Yesus memberi isyarat dengan menempelkan jari telunjuk di bibirnya. Yohanes pun mengurungkan niatnya.

“MasYo…tolong permandikan aku..” kata Yesus ramah.

Yohanes terbengong heran, jawabnya. “Lho? Tidak selayaknya aku melakukan hal itu Dimas. Aku yang seharusnya Dimas permandikan, bukan sebaliknya.”

“Sebelum aku berpuasa dan menyepi di padang gurun selama 40 hari. Tidak ada salahnya kalau aku bersih-bersih dulu. Ayolah mas Yo. Permandikan aku.” Desak Yesus.

Yohanes menarik napas panjang. “Yaah… Baiklah Dimas. Tetapi nanti gantian ya. Aku dipermandikan dengan Api dan Bumi.”

Yesus tersenyum dan mengangguk pelan.

Yohanes mengawali ritualnya dengan mencelupkan telapak tangan kirinya ke dalam air sungai, ucapnya.”Air di luar dan Air di dalam.. menyatu dalam diri.” Tangan kanannya menengadah ke langit. ucapnya. “Udara di luar, Udara di dalam.. menyatu dalam diri. Air dan Udara kehidupan, membersihkan segala kotoran yang hinggap pada sosok Dimas Yesus.”

Setelah selesai mengucapkan mantra. Yohanes membenamkan tubuh Yesus ke dalam air sungai, ucapnya. “Semua kekotoran lahir mau pun batin larut, kasar mau pun halus, mengalir bersama aliran sungai Yordan.”

Ritualpun berakhir. Ketika tubuh Yesus menyembul dari sungai. Terdengar suara petir menyambar.. menggelegar memekakkan telinga.

Bagi khalayak yang berkerumun di situ, yang terdengar memang suara petir yang menggelegar. Tetapi bagi Yohanes dan Yesus, yang terdengar adalah suara Agung yang berkata. “Inilah anakKu yang Aku kasihi. Kepadanyalah Aku berkenan.”

Bersamaan dengan itu tampak burung merpati putih, terbang mendekat dan melayang di atas kepala Yesus.

Burung Kedasih melihat semua itu mulai bernyanyi:

Wahai…disepanjang segala masa,

sosok-sosok seperti Yohanes Pemandi

Hadir di bumi silih berganti

mewatarkan jalan pulang.

Namun tidak banyak yang sanggup mendengar himbauannya.

Karena tidak semua siap menerima himbauan jalan pulang.

Yang harus diawali dengan pembersihan..

Justru banyak yang menuduh sebagai aliran sesat.

Pembersihan adalah langkah awal menuju ke abadian.

Keabadian adalah kekosongan yang penuh tanpa batas.

Itulah tujuan ziarah manusia di dunia fenomena ini.

Benar kata Yohanes Pemandi.

Kalian memang sedang tersesat di alam maya.

Kalian sedang tertidur dan bermimpi.

Yohanes ingin membantu membangunkan kalian.

Ia ingin menunjukkan jalan pulang.

Bukan di puncak gunung.

Bukan di tengah hutan.

Bukan di gua yang gelap.

Tetapi di Bait Allah yang Hidup

Bait Allah yang disebut Panca Maha Bhuta.

Jalan pulang itu ada di dalam dirimu.

“Piiip…piiip piiip piiip… pip pip pip pip pip pip pip…!”

 

Mpu Baryonim.