Adalah seorang imam tua yang bernama Zakharia. Suatu kali ia sedang memulai upacara rutin di Bait Allah. Setelah membakar dupa, aroma harum segera memenuhi ruang bait Allah.  Tiba-tiba di telinganya terdengar suara lembut: “Jangan takut Zakharia. Aku datang membawa kabar gembira.”

            Zakharia terhenyak kaget. “Suara siapa yang berbisik di telingaku ini?” Begitu pikirnya.

            “Tidak perlu dibahas siapa yang membisikimu. Dengar saja dan camkan dengan baik. Ada kabar istimewa untukmu. Bahwasanya istrimu Elisabet akan mengandung.” Kata bisikan itu berlanjut.

            “Di awal pernikahan memang kami sangat mengharapkan hal itu. Tetapi sekarang itu merupakan suatu hal yang mustahil. Pertama karena istriku mandul. Kedua kami berdua sudah  lansia.” Jawab Zakharia.

“Sayang sekali kamu menyangsikan hal ini. Suatu perbuatan yang seharusnya tidak dilakukan oleh seorang imam seperti  kamu. Dengar dan catat bisikanku ini. Setelah anak itu lahir berilah dia nama Yohanes, yang artinya ‘Tuhan penuh kasih karunia.’ Banyak orang akan bersuka cita atas kelahiran anak itu. Sebab ia akan besar di hadapan Tuhan. Sejak dalam kandungan ia sudah dipenuhi oleh Roh Kudus. Ia akan membuat banyak orang Israel berbalik memuliakan Tuhan. Tetapi dia juga dibenci oleh para Ahli Kitab Yahudi.”

Zakharia terlongong mendengar bisikan, akal sehatnya sama sekali tak bisa menerima.

            “Karena kamu menyangsikan berita ini. Kamu akan menjadi bisu sampai anak itu dilahirkan.” Begitulah akhir bisikan itu, disampaikan dengan penuh penekanan.

            Begitu bisikan itu berhenti Zakharia tak bisa mengucapkan sepatah kata pun. Para Jemaat di dalam Bait Allah heboh  mendapati imamnya mendadak bisu.

            Ternyata ucapan bisikan itu benar adanya. Beberapa lama kemudian Elisabet kedapatan mengandung. Setelah tiba saatnya melahirkan. Zakharia minta batu-tulis dan menuliskan nama Yohanes seperti anjuran bisikan itu. Saat itu juga Zakharia bisa berbicara normal lagi.

            Burung Kedasih yang menyaksikan peristiwa itu bernyanyi.

            Wahai, Zakharia engkau adalah salah satu contoh insan manusia-lalai

manusia sesungguhnya memiliki suatu potensi adi kodrati

            Namun karena kedunguannya, ia menyangsikan potensi yang luar biasa itu.

            Sebagai dampaknya, ia akan menjalani masa penyesalan yang panjang,

            Kemudian didikte oleh keadaan agar berkontemplasi dan berkultivasi

            Untuk silih bagi kedunguannya kelalaiannya.”

            “Piiip…piiip piiip piiip… pip pip pip pip pip pip pip…!”

            Karena anak seorang Imam, sejak kecil Yohanes kecil telah diperkenalkan dengan hal-hal yang berbau spiritual. Di usia remaja ia di masukan ke sebuah padepokan yang mengajarkan tentang “Etika, moral, dan Sangkan Paraning Dumadi”

            Setelah qatam dan lulus dari padepokan itu Yohanes menjadi sorang yang vocal. Ia menjadi penceramah jalanan. Selain mencanangkan hidup bebas dari penjajahan bangsa Romawi. Ia juga mencanangkan bahwa kerajaan Surga sudah dekat. Ia mengajak masyarakat untuk bertobat dan dipermadikan atau diruwat. Karena kegiatannya itu, ia mendapat predikat sebagai Yohanes Pemandi.

            Pada waktu itu Yudea sedang dijajah oleh bangsa Romawi. Raja yang berkuasa saat itu adalah Herodes Antipas. Yang memiliki kegemaran berhura-hura dan menyaksikan tari perut yang eksotik.

            Yohanes Pemandi selain menghimbau masyarakat agar sadar, melakukan pertobatan dan pembersihan diri dengan permandian atau ruwatan.  Ia juga dengan keras dan berani, secara lugas dan tegas menentang pelanggaran etika dan moral para pejabat. Dengan begitu ia mendapat banyak simpati masyarakat yang menghendaki bebas dari penjajahan Romawi.

Kepopuleran Yohanes Pemandi sampai ke telinga raja Herodes. Herodes segera mengirim mata-mata untuk menyelidiki, seberapa besar pengaruhnya, seberapa besar pengikutnya dan apakah benar bahwa Yohanes Pemandi menghimpun kekuatan untuk memberontak.

            Tempat favorit Yohanes untuk medar sabdo dan meruwat orang-orang yang mau bertobat adalah di sungai Yordan. Dengan semangat yang berapi-api Yohanes medar sabdo “Bertobatlah saudara-saudaraku. Kerajaan Surga sudah dekat! Dekaattt sekali. Bahkan lebih dekat dari urat lehermu. Karena sesungguhnya Kerajaan surga tidak ada di luaran sana. Tetapi ada di dalam diri kita masing-masing.”

            Sementara orasi berjalan terus. Khalayak terus berdatangan semakin bertambah banyak, ada juga di antara mereka mata-mata raja Herodes. Yohanes melanjutkan orasinya. “Barang siapa mempunyai dua helai baju, hendaklah ia membaginya dengan yang tidak punya. Barang siapa mempunyai makanan lebih, hendaklah ia berbuat juga demikian. Kita meskipun sebagai rakyat jelata harus memiliki pemikiran yang kritis. Yang benar katakan benar. Yang salah katakan salah.” Yohanes berhenti sejenak. Memandangi khalayak yang berkumpul. Mata batinnya melihat bahwa di antara kerumunan itu ada seseorang yang sedang memata-matai dirinya. Kesempatan itu ia gunakan untuk menyindir Herodes Antipas.  “Dalam Imamat bab 18, ayat 16 dikatakan :”Jangan kau singkapkan aurat istri saudaramu laki-laki, karena itu hak saudaramu laki-laki” Nah, dari ayat itu, jelas apa yang dilakukan Herodes terhadap Herodias istrinya? Herodias sebelum menjadi uistri Raja Herodesnya adalah istri Filipus yang merupakan saudaranya sendiri. Maka tidak halal Raja Herodes mengambil istri saudaranya. Dia telah melanggar hukum Taurat. Nah, ha-hal semacam ini yang harus kita luruskan.!”

            Khalayak yang hadir di tempat itu bergumam cemas-cemas gemas menanggapi keberanian Yohanes Pemandi mengutarakan aib rajanya sendiri. Mata-mata utusan raja Herodes segera beringsut menjauh dan mempercepat langkah agar segera tida di istana untuk melaporkan apa yang ia dengar.

Herodes naik pitam mendengar laporan itu. Aib yang berusaha ia tutupi itu ternyata bocor. Bahkan sekarang disebar luaskan oleh Yohanes Pemandi. Peristiwa ini mengguncang legitimasi moral raja Herodes sebagai penguasa. Herodes merasa dirinya  dihina oleh seorang gelandangan. Ia segera merintahkan agar Yohanes ditangkap dan dipenjarakan. Dengan tuduhan Yohanes dianggap sebagai ancaman stabilitas politik. Mengancam reputasi dan kekuasaan raja. Menggalang masa untuk memberontak.

            Sesungguhnya yang merasa paling sakit hati adalah Herodias. Istri Herodes Antipas ini awalnya adalah istri Filipus yang merupakan saudara tiri Herodes. Karena Herodias tertarik dan ngebet ingin kawin dengan Herodes, maka ia bercerai dengan Filipus. Selama ini tak ada keluarga atau pun koleganya yang membicarakan hal itu. Sekarang ada orang yang ia anggap gelandangan berani membuka aib itu.

            Pada waktu ulang tahun Raja Herodes, dirayakan secara meriah. Salome anak Herodias, seorang gadis yang cantik, seksi dan luwes jika menari perut. Salah satu acara untuk memeriahkan pesta ulang tahun itu. Salome akan menunjukkan kepiawaiannya dalam menari perut. Salomepun mulai menari, anggota badannya meliuk-liuk indah, gerakan-gerakan lembut yang erotis, menyatu dengan tetabuhan yang mengiringinya. Tarian itu tidak berlangsung terlalu lama. Namun telah mampu mempesona sang Raja yang berulang tahun. Gairah yang selama ini menguap dari dirinya. Kini muncul lagi, setelah menyaksikan tarian Salome puterinya. Setelah tarian berakhir, raja Herodes bertepuk tangan. Dalam kegairahan itu serta-merta mengucap. “Oh… Salome, bukan main… engkau telah membuat aku hidup dan bersemangat lagi.. Semangat yang menggelora. Wahai Salome.. aku bersumpah, mintalah apa saja. Apa pun permintaanmu akan aku penuhi. Sekalipun setengah dari kerajaanku”

            Salome bingung, apa yang akan ia minta. Sebab apa pun yang ia butuhkan dan inginkan telah terpenuhi.

Tiba-tiba di benak Herodias  muncul ide yang bisa membalaskan sakit hatinya terhadap Yohanes Pemandi. Herodias segera mendekati Salome lalu berbisik di telinga Salome. “Mintalah kepala Yohanes Pemandi. Disajikan di sebuah talam.”

Salome sangat kaget. Sehingga tak bisa berkata-kata. Kemudian Herodias berbisik lagi. ”Ayolah Salome. Dengan begitu engkau telah membalaskan sakit hatiku kepada Yohanes si gelandangan itu. Tolong Salome. Inilah saat yang tepat dendamku terbalaskan. ” Ucapan dan tatapan mata Herodias begitu tajam. Salome tiba-tiba ingat, ia pernah melihat sorot mata seperti itu ketika ia masih kecil memecahkan cermin antik milik ibunya. Sehingga ibunya marah besar. Maka dengan sangat terpaksa Salome mengangguk. Dan menghadap Raja Herodes. Dan berkata. “Saya minta kepala Yohanes Pemandi. Disajikan di sebuah talam.”

Herodes terperangah kaget. Dengan perasaan menyesal Herodes memohon.“Mintalah yang lain Salome…”

“Paduka bilang saya boleh minta apa saja…” Jawab Salome.

“Ucapan seorang raja tak terbantahkan. Apa lagi paduka telah bersumpah.” Sambung Herodias mengingatkan.

Herodes lemas mukanya memucat. Ia sangat menyesali sumpahnya sendiri. Beberapa saat kemudian ia memerintahkan kepada pengawalnya untuk memenggal kepala Yohanes Pemandi dan disajikan di sebuahTalam.”

Tiba-tiba burung pipit yang ikut hadir dalam pesta ulang tahun Raja Herodes itu bernyanyi:

            “Wahai… begitu mengerikan ‘buah’ sebuah dendam..

            Dari mana muncul bibit dendam dalam sebuah hati?

            Wahai… kenapa penegakan kebenaran harus ditumbali dengan darah..?

            Wahai… kenapa begitu berat dan sulit menegakkan kebenaran..?

            Wahai… masih adakah keadilan di kehidupan ini..?

Wahai… marti kita renungkan tragedi berdarah Yohanes Pemandi ini.

Piiip.. piiip.. piiip.. piiip… pip pip pip ipip pip pip pip…!” 

                                               

Mpu Baryonim.