Di padang tandus yang panas terik, di pinggiran wilayah Yerusalem. Burung Kedasih yang mungil melihat Magdalena. Si pelacur cantik itu lari tersaruk-saruk sangat ketakutan. Di desak keingin tahuannya, burung itu terbang mendekati si pelacur.

                 “Ada apa Zus Magda? Kenapa lari terbirit ketakutan begitu?” Tanya burung Kedasih.

                 Dengan napas meburu, pelacur seksi itu menjawab. “Aku dikejar segerombolan orang yang ingin merajamku”.

                 “Terus Zus mau lari kemana?” Tanya Kedasih sambil terbang mengikuti kemana arah lari si pelacur.

                 “Aku harus mencari perlindungan!”

                 “Kemana? Ke kaum Farisi?” tebak Kedasih.

                 “Tidak! Beberapa orang Farisi ada di antara gerombolan ganas itu.!” Jawab pelacur itu, agak memperlambat larinya. Ia mulai kecapaian.

                 “Terus, kamu mau berlindung ke mana? Di padepokan kaun Sanhedrin?” tebak Kedasih lagi.

                 Mendengar kata Sanhedrin, kelihatan sekali Magdalena merasa jijik.”Hiihh..! Tidak mungkin ke sana. Bisa-bisa aku malah direncak1 bergantian!”

                 “Huss! Jangan ngawur kamu! Mereka itu orang-orang suci!” Bentak burung Kedasih.

                 “Suci?” sahut pelacur itu mencibir. “Prek! Tidak semua! Sebagian besar mereka munafik! Kebanyakan mereka menyembunyikan kemunafikan dan kebobrokan akhlaknya di balik jubah yang kedombrangan itu!”

                 “ Astaga… Rupanya kamu punya pengalaman buruk dengan mereka..” Pikir burung Kedasih. “Terus kamu mau mencari perlindungan kemana?” desak Kedasih.

                 Sementara itu para gerombolan yang semakin bertambah banyak itu, dan semakin dekat dengan korban yang mereka kejar.

                 Magdalena pun mempercepat larinya.

                 “Aku harus menemui Rabbi Yesus!” seru pelacur itu.

                 “Rabbi Yesus?!” Kedasih keheranan. “Walah, kamu salah alamat Zus Magda! Lebih baik kamu bersembunyi di Sinagoga. Pasti aman…”

                 “Aku tidak pantas menginjakkan kakiku di Sinagoga, aku ini orang najis. Aku harus menemui Rabbi Yesus. Dulu dia pernah menolongku ketika aku kerasukan setan.” Jawab pelacur itu yakin dan terus berlari.

                 Burung Kedasih terus terbang mengikuti Magdalena sambil merenung. “Hmm.. Maria Magdalena seorang pelacur. Sedangkan Yesus adalah anak haram. Hm, mungkin mereka ada kecocokan.” Di desak keinginan tahunya, burung Kedasih itu bertanya lagi. “Kok kamu begitu yakin kalau anak si tukang kayu itu bisa menyelesaikan masalahmu?”

                 “Ya, aku yakin. Bahwa orang yang bersahaja seperti dia. Orang yang hidupnya hanya untuk melayani orang lain, penuh welas asih, dan tanpa pretensi apa pun. Dia pasti bisa menolongku.”

                 “Dari mana kamu memperoleh keyakinan seperti itu?” Tanya Kedasih penasaran.

                 “Dulu suatu kali, di suatu kedai minum, aku setengah mabuk karena kebanyakan minum anggur oplosan. Ketika aku mau meneguk anggur lagi. Tiba-tiba ada yang memegangi tanganku. Sehingga aku tidak jadi minum. Waktu aku menoleh dan melihat wajahnya. Secara cerap-cerap aku seperti mengenal wajahnya. Ketika aku mencoba mengingatnya. Ya wajah itulah yang bisa menyembuhkan aku dari depresi yang aku alami. Kemudian dia mampir di pondokku. Dia berbicara panjang lebar tentang suatu hal yang awalnya sama sekali tidak aku pahami. Tapi saat aku di dekatnya hatiku terasa sejuk dan damai. Dari sorot matanya, aku bisa menangkap bahwa dia orang jujur dan “linuwih”…”

                 Tepat pada saat itu, tiba-tiba Yesus sudah berada di depannya. Maria Magdalena langsung menjatuhkan diri  di kaki Yesus dan memohon. “Rabbi… tolong aku…”

                 Namun para gerombolan ganas  yang dipenuhi amarah sudah mengepung dan mengacung-kan batu yang sejak tadi mereka genggam, sambil berteriak-teriak, bergantian:

                 “Perempuan penjinah harus dirajam sampai mati!” “Ya..! Kalau tidak. Ia akan menularkan virus perjinahan di ranah kita yang suci!” “Jangan diberi ampun! Dia harus dirajam.!” “Ya, kami pecinta kesucian! Siap merajamnya sampai mati!” Begitulah geram kemarahan gerombolan yang siap mengambil ancang-ancang untuk melemparkan batu pada pelacur itu.

                 Magdalena menggigil ketakutan.

                 “Tunggu dulu..!” Lerai Yesus. “Kita selesaikan secara musyawarah..”

                 “Tidak ada musyawarah untuk kasus seperti ini!” Jawab serentak para gerombolan itu, sambil di antara mereka sudah ada yang melemparkan batu sehingga mengenai Yesus mau pun Magdalena. Melihat keadaan yang  genting itu “Minggir kamu Yesus! Kalau tidak, kamu akan ikut terajam bersama penjinah itu!”

                 Yesus malah jongkok. Jari telunjuknya menggambar semacam “yantra” di tanah berpasir itu. Beberapa saat kemudian, Yesus meraup segenggam pasir yang bergambar yantra itu, berdiri, lalu menaburkan pasir itu ke atas Magdalena.

                 Entah kenapa para gerombolan itu menghentikan lemparannya. Malah menonton apa yang dilakukan Yesus.

                 Yesus dengan tenang menghadapi gerombolan yang masih terbakar amarah itu. “Bagi kalian yang tidak pernah berbuat dosa. Dan mau melampiaskan amarah kalian. Serta mau menghakimi wanita ini…Silakan.”

                 Semua gerombolan itu merasa dirinya tak memiliki dosa sedikit pun. Dengan penuh amarah dan bertubi-tubi mereka semua merajam Magdalena. Tetapi apa yang terjadi? Batu yang dilemparkan itu tidak sampai ke tubuh Magdalena. Dalam jarak sejengkal dari tubuh pelacur itu. Batu itu memantul berbalik terlontar menuju ke mana asal batu itu dilontarkan. Sehingga batu-batu itu mengenai masing-masing si pelontar. Gerombolan itu berteriak kesakitan dan berlari tunggang langgang meninggal Magdalena dan Yesus.

                 Melihat kejadian itu burung Kedasih bernyanyi:

                 “Wahai…  telah terjadi suatu pembelajaran.

                 Barang siapa menghakimi orang lain

                 sesungguhnya dia menghakimi dirinya sendiri.

                 Barang siapa menyakiti orang lain

                 sesungguhnya dia menyakiti dirinya sendiri.

                 Barang siapa menolong ataupun mencintai orang lain

                 Sesungguhnya dia menolong dan mencitai dirinya sendiri.

                 Wahai.. Gara-gara kasus Maglena si Pelacur,

                 Terbabarlah salah satu ayat yang bertebaran di langit.”

                 “Piiip…piiip piiip piiip piip…pip pip pip ipip pip pippip…!’

                 Mpu Baryonim.