Keinginan Nikodemus untuk bertemu dengan Yesus begitu menggebu. Setiap hari ia menunggu kabar dari Maria Magdalena. Bersediakah Yesus diajak bicara empat mata denganya. Sementara menunggu berita dari Maria Magdalena. Secara diam-diam, Nikodemus mencari-cari tempat dimana dia bisa berdiskusi dengan Yesus tanpa dikatehui oleh Ahli Kitab lainnya.
Singkat cerita Yesus bersedia berbicara empat mata dengan Nikodemus. Tempat dan waktu pun telah ditentukan, dan disepakati. Nikodemus menanggalkan Jubah Sanhedrinnya, mengenakan baju rakyat jelata. Mininggalkan rumah, berjalan menuju ke tempat yang telah ditentukan.
Burung Kedasih, si penyanyi semesta itu rupanya tertarik dengan pertemuan antara Yesus dengan Nikodemus. Ia bertengger tidak jauh dari tempat mereka duduk. Burung Kedasih ingin tahu kenapa Nikodemus begitu menggebu ingin bertemu dengan Yesus.
Setelah berbasa-basi. Yesus memulai pembicaraan dengan mengajukan pertanyaan. “Pak Niko… sebenarnya apa yang sampeyan inginkan dari pertemuan ini?”
“Eh… Begini mas… Beberapa hari yang lalu saya melihat dengan mata kepala saya sendiri. Mas Yesus menyembuhkan pemuda lumpuh secara instan. Kemudian beberapa waktu yang lalu sampeyan juga menyembuhkan Maria Magdalena yang kerasukan setan.” Kata Nikodemus penuh kekaguman.”Dari apa mas Yesus lakukan, kami tahu engkau adalah guru yang diutus Allah.”
Yesus tersenyum sambil menatap mata Nikodemus. “Hm… siapa sih Allah itu pak Niko?”
Sebagai seorang guru agama Yahudi Nikodemus menjawab cepat. “Yang mencipotakan seru sekalian alam dan isinya termasuk manusia,”
“Hm.. Dari mana jawaban itu pak Niko peroleh?” Lagi-lagi Yesus tersenyum sambil melontarkan pertanyaan nakal itu.
“Dari kitab Tanakh tentu saja…” Jawab Nikodemus pasti.
“Begini pak Niko. Sesungguhnya untuk mengenal Allah. Kita tidak bisa mengandalkan hal-hal luaran, seperti dari kitab-kitab atau pun menurut kata orang. Tetapi kita harus mencarinya di dalam diri kita sendiri Kita harus mengalaminya.” Kata Yesus dengan sabar.
Lagi-lagi Nikodemus mengernyitkan dahinya sambil merenungkan kata-kata Yesus. “Harus mencarinya di dalam diri sendiri?” Nikodemus memandangi wajah Yesus. “Saya belum mengerti maksud mas Yesus.”
“Jika seseorang tidak mengenal dirinya, dia tidak akan mengenal Tuhan Allahnya.” Kata Yesus pelan.
Nikodemus terbengong mendengar jawaban Yesus. Sebab dalam kitab-kitab yang dia pelajari, dia belum pernah menemukan pernyataan seperti itu. Inteletualitasnya sebagai Ahli kitab, ia sadar bahwa jawaban Yesus itu adalah kata kunci ajaran spiritual yang harus ia geluti. Maka ia memutuskan untuk menjadi murid Yesus. Tetapi pikirnya. “Oh.. kalau aku harus menjadi murid anak muda ini. Apa kata istri dan keluargaku? Apa kata para imam-imam kerabatku? Tetapi kalau tidak menjadi muridnya bagaimana aku bisa memperoleh ajaran itu?” Begitulah pikiran Nikodemus berkecamuk. Konflik batin itu sangat mengganggu dirinya.
“Kenapa diam pak Niko? Ada apa?” Kata Yesus.
Nikodemus terhenyak. Lalu dengan sedikit gugup bertanya. “Saya ini sudah tua.” Nikodemus berhenti sejenak, ia berpikir keras. “Eh maksud saya begini. Maaf, ini sekadar contoh.. Misalnya mas Yesus keburu meninggal. Bagaimana nasib orang-orang yang tidak mengenal ajaran itu?”
Yesus tersenyum.”Pak Niko… Sesungguhnya ajaran ini adalah ajaran yang bersifat universal dan kekal. Meskipun bumi dan alam semesta ini punah, tetapi ajaran universal itu akan tetap eksis. Kalau toh saya sudah tidak ada, tentu ada yang tetap mengajarkan ajaran yang berbasis ‘cinta-kasih’ itu. Mamang saya tahu nantinya ajaran ini akan disalah gunakan, disalah tafsirkan, bahkan ada yang berusaha melenyapkannya. Namun seperti saya katakan tadi bahwa ajaran ini bersifat abadi. Kalau si pembawa misi itu telah tiada, tentu akan muncul Sang Penerus yang sanggup menjelaskan sesuai sikon masyarakat yang ada, dengan bahasa yang bisa dimengerti oleh yang bersangkutan.”
Nikodemus penasaran dan bertanya lagi. “Kalau sampeyan meninggal akan ada Sang Penerus. Lalu bagaimana kalau saya dan orang-orang yang senasib dengan saya, yang belum paham dan belum qatam mempelajari ajaran sampeyan, keburu mati?”
Yesus tersenyum lagi.. ”Kalau Pak Niko belum paham dan keburu meninggal, Pak Niko akan diberi kesempatan lagi untuk mempelajari ajaran yang belum sempat sampeyan kunyah sampai qatam itu.” Yesus memandangi Nikodemus yang melongo tidak tahu apa yang dimaksudkan Yesus. “Begini pak Niko, sesungguhnya kalau Pak Niko tidak dilahirkan kembali, Pak Niko tidak akan bisa melanjutkan pelajaran tentang mengenal diri, apalagi mengenal Allah.”
Nikodemus semakin bingung, “Baiamana mungkin seorang dilahirkan kembali, kalau ia sudah tua? Dapatkah ia masuk kembali ke rahim ibunya….dan dilahirkan lagi?”
Yesus tertawa dan memaklumi ketidak-pahaman Nikodemus.”Pertanyaan itu muncul karena pak Niko terlambat mendengar berita ini. Dengarkan baik-baik pak Niko. Manusia dilahirkan di dunia ini memiliki misi untuk belajar tentang ‘Sangkan paraning dumadi’. Kalau dalam usia tertentu manusia keburu mati. Sesungguhnya yang mati adalah raganya. Tetapi Ruh yang juga disebut “Sang Hidup” itu tak pernah mati. Nah, karena wadahnya sudah keburu mati, tetapi belum qatam mempelajari ‘Sangkan Paraning Dumadi’, maka untuk melanjutkan pelajarannya ia akan dilahirkan kembali. Dalam dalam peziarahan hidup selanjutnya ia tentu akan dipertemukan dengan Guru yang akan melanjutkan pelajaran yang belum tuntas itu. Begitulah mekanisme alam mengatur kehidupan manusia.”
Nikodemus masih tetap terlongong bingung, “Jadi kalau manusia mati ruhnya tidak langsung kembali ke asalnya?”
Yesus tersenyum, “Kalau misinya atau tugasnya telah dituntaskan. Bisa jadi ia langsung kembali ke asalnya. Tetapi ada kalanya kalau manusia telah qatam sempurna. Ia memiliki kebebasan mau pulang ke asalnya atau turun ke dunia lagi”
Nikodemus, “Hm.. mas Yesus. Lalu sampai berapa kali seseorang akan direinkarnasi?”
Jawab Yesus serius. “Sampai Qatam.” Melihat Nikodemus yang sangat penasaran itu. Yesus tersenyum-senyum menggoda, katanya. “Karena di pintu gerbang Nirwana terpampang papan yang bertuliskan: YANG BELUM QATAM DILARANG MASUK’ Pak Niko tahu, siapa yang menjaga di pintu gerbang itu?”
Nikodemus mencoba menebak. “Malaekat bersenjata pedang api?”
Mendengar jawaban itu, Yesus tertawa terbahak-bahak. Lalu menjawab sambil tertawa. “Bukan. Ha ha ha.. Tetapi tujuh bidadari cantik, yang terus menerus menari meliuk-liuk eksotis dengan pakaian transparan seperti kelambu.”
Nikodemus geleng-geleng kepala, tidak mengerti apa yang dimaksudkan Yesus.
Lalu terdengar burung Kedasih bernyanyi:
Pulanglah Nikodemus dinginkan dulu kepalamu.
Pelajaran mas Yesus semakin sulit untuk dicerna.
Singkirkan keinginan tahu yang terlalu menggebu itu.
Belajarlah bersabar, bertindaklah tanpa dorongan nafsu dan ego
Pulanglah dan renungkan,
Pahami yang sanggup kau pahami
Praktikkan yang sanggup kau praktikkan
Sesungguhnya ajaran Yesus, sederhana
Pikiranmulah yang membuatnya rumit.
“Piiip.. piiip.. piiip.. piiip… pip pip pip ipip pip pip pip…!”
Mpu Baryonim.