Pada waktu itu datanglah orang-orang berbondong-bondong ingin mendengar khotbah Yesus. Pada waktu mereka sudah berkumpul. Salah satu di antara mereka bertanya. “Mas Yesus.. Saya pernah mendengar ceramah Yohanes Pemandi yang mengatakan bahwa Kerajaan Sorga sudah dekat? Emangnya Kerajaan Surga itu ada dimana ya?”

Yesus tersenyum lalu menjawab. “Untuk memahami hal itu harus kita renungkan pelan-pelan. Jangan grusa-grusu. Karena istilah ‘Surga’ itu telah banyak disalah pahami. Oleh karena itu, hal pertama yang harus dimengerti bahwa ‘Surga’ itu bukan nama tempat. Tetapi suatu kondisi kehidupan seseorang.”

Mendengar penjelasan itu orang banyak itu mengangguk-angguk paham. Kemudian ada yang nyeletuk. “Lalu yang dimaksud Kerajaan Surga sudah dekat itu gimana Mas?”

“Yang dimaksudkan oleh Yohanes bahwa Kerajaan Surga sudah dekat, itu karena Kerajaan Surga bukan berada jauh di langit sana. Tetapi ada di dalam diri kita masing-masing.” Jawab Yesus.

Lalu ada yang bertanya lagi.” Lalu siapa yang terbesar di Kerajaan Surga itu Guru? Hm.. maksud saya siapa yang paling pantas berada di Kerajaan Surga itu?”

Di antara khalayak itu, ada ibu yang membawa anaknya yang masih kecil. Yesus mendekati anak kecil itu, mengangguk minta ijin kepada ibunya lalu menggendongnya, lalu katanya. “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak pantas masuk Kerajaan Sorga. Sedangkan barang siapa merendahkan diri, membuang semua indentitasmu, mengosongkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini; dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga.”

Salah satu khalayak nyelutuk sinis dengan nada tidak percaya. “Bagaimana mungkin yang sudah bangkotan begini, disuruh menjadi seperti anak kecil lagi? Jangan asal ngomong Mas!”

“Jangan bersungut-sungut seperti itu.” Kata Yesus. “Dengarkan dulu baik-baik. Kalian masih menyalah pahami istilah ‘Kerajaan Surga’. Yang dimaksud Kerajaan Surga adalah suatu kondisi Suwung tanpa identitas. Yang oleh orang Hindu disebut Siva (yang bukan apa pun). Itulah Sangkan Paraning Dumadi. Di situlah segala kehidupan bermuara. Di situlah segala hal dimulai sekaligus diakhiri. Di situlah letak keabadian.” Yesus berhenti sejenak memberi kesempatan khalayak yang hadir mencerna apa yang ia sampaikan. “Kenapa anak kecil yang masih suci seperti ini dipakai sebagai contoh? Karena anak yang masih kecil benaknya masih polos belum terkontaminasi dengan segala pretensi, ambisi dan banyak si, si, si, yang lain. Yang dalam perjalanan waktu, secara akumulatif akan menumpuk menjadi hijab dan menghalangi dirinya mencapai ‘Kerajaan Surga’ atau ‘Kondisi Suwung’ itu. Dan semua itu prosesnya terjadi di dalam diri kita masing-masing.”

Salah satu dari khalayak itu bertanya. “Jadi kalau begitu boleh dikatakan bahwa kondisi anak-anak kecil itu masih suci? Masih semurni Allah? Begitu Mas?”

Dengan tenang Yesus menjawab “Ya.. boleh dikatakan begitu. Bukankah tertulis dalam kitab Taurat: ‘Kamu adalah allah?’ Dan ‘a’ dalam kata allah ditulis dengan huruf kecil. Itu dikandung maksud bahwa manusia sesungguhnya berpontensi menjadi Allah.”

Dari ekspresi yang terpancar di wajah orang-orang yang mendengarkan wedaran Yesus, banyak yang belum memahami apa yang Yesus maksudkan. Maka Yesus melanjutkan. “Ya.. aku tahu resikonya membuka rahasia ajaran ini kepada kalian. Tetapi kebenaran harus disampaikan. Kalau manusia memang berpotensi menjadi Allah. Kenapa harus ditutup-tutupi? Aku tahu tidak semua orang bisa menerima kebenaran ini. Bahkan ada yang mengatakan bahwa ini ajaran sesat. Dan aku dituduh menghojat Allah.”

Yesus bangkit dari duduknya sambil berkata. “Aku juga pernah mengatakan, bahwa kamu adalah Bait Allah yang hidup. Kurang jelaskah itu untuk kalian? Sinagoga adalah Bait Allah yang dibangun dengan batu atau materi duniawi. Sedangkan tubuhmu adalah bait Allah yang dibangun dengan lima elemen, yaitu tanah, api, air, udara, dan eter. Dengan kata lain kamu adalah rumah Allah yang hidup. Nah.. Sadarkah kalian bahwa kamu dan Allah  sesungguhnya berada dalam satu rumah? Anehnya, berada satu rumah. Namun tidak saling mengenal. Nah, barang siapa yang punya telinga hendaknya mendengar. Yang punya mata hendaknya melihat. Yang punya hati hendaknya merasakan.”

“Maaf mas Yesus… Saya pusing mendengar khotbahmu. Mengawang-awang. Tidak membumi. Maaf saya undur diri!” Celetuk salah seorang di antara mereka.

“Saya juga bingung mencerna ajaran sampeyan Mas. Saya juga mau pulang! Buang-buang waktu saja!” Celetuk yang lain.

“Saya juga sulit memahami apa yang sampeyan kemukakan itu. Maaf saya mau pulang juga. Masih banyak urusan yang harus saya tangani!” Kata yang lainnya lagi.

Kemudian beberapa orang ikut pergi meninggalkan tempat itu. Hanya sebagian kecil yang tetap tinggal di tempat itu.

Yesus tidak mencegah kepergian orang-orang itu. “Manusia memang memiliki kehendak bebas. Bagi kalian yang masih tinggal, sekiranya mau pulang, silakan. Tidak ada paksaan.  Dan telah tertulis, banyak yang terpanggil, namun sedikit yang terpilih.”

Yakobus, salah satu murid Yesus bertanya. “Guru tadi mengatakan bahwa manusia adalah Bait Allah yang hidup. Jadi boleh dikatakan bahwa saya dan Allah tinggal dalam satu rumah? Begitu?”

“Ya.. Memang begitu Yakobus..” Jawab Yesus.

“Saya tinggal dalam satu rumah dengan Allah. Tetapi kenapa saya tidak pernah bertemu dengan Allah?”Kata Yakobus penasaran.

“Nah, justru di situlah duduk persoalannya. Di situlah kata kuncinya” Jawab Yesus sambil tersenyum.

“Maksud Guru…?” Sambung Yakobus.

“Sesungguhnya kehadiranku di antara kalian, untuk membabar rahasia yang selama ini belum kalian ketahui. Sebab kalau selagi hidup ini kalian tidak mengenal Allah yang serumah denganmu. Maka sampai kapan pun kalian tidak akan mengenal Allah. Nanti akan ada orang cerdik pandai yang mengatakan ‘Gnoti Seaton’ yang artinya kenalilah dirimu. Ada juga yang mengatakan ‘man’arafa nafsahu, faqat ‘arrafa rabbahu’, yang artinya kenalilah dirimu maka akan kamu kenali Tuhan Allahmu. Nah, kamu telah serumah dengan Allah, tetapi kamu tidak mengenalNya. Bagaimana kamu mengenali Allah yang Maha Kuasa dan berada di mana-mana. Bagaimana Yakobus, sudahkah kamu menangkap maknanya?”

“Belum Guru” jawab Yakobus.

Yesus memandangi murid-muridnya sambil tersenyum. ”Pelan-pelan. Dan ini tidak selesai dengan hanya mendengar khotbah dan ritual. Tetapi harus dijalani langkah demi langkah setiap harinya.”

“Apa yang harus kami jalani?” Tanya Yakobus.

“Masuk ke dalam diri. Belajar mengenali siapa jati dirimu yang sebenarnya.” Jawab Yesus pelan.

“Seberapa lama kami harus melakukan hal itu Guru?” Tanya murid yang lain.

“Kalian harus menyediakan waktu sebanyak sepersepuluh hidup kalian untuk menyelami keberadaan Allah. Dan ini kelak akan disalah pahami sebagai sepersepuluhan duniawi.” Kata Yesus dengan sangat hati-hati.

“Lalu patrapnya gimana itu Guru?” Kata murid yang lain lagi dengan penasaran.

“Duduk santai, memejamkan mata dan melihat ke dalam diri, menemui Allah yang berada di dalam diri kita. Nanti kapan-kapan kita naik ke gunung Tabor untuk belajar bagaimana meniti ke dalam diri.” Jawab Yesus mengakhiri khotbahnya.

Dari jauh burung Kedasih yang ikut mencuri dengar percakapan itu mulai bernyanyi:

 

“Kalau kalian hari ini  tidak paham

aan tak ada niat untuk memahami

Waktu maut menjemputpun kalian tetap tak akan paham.

Tak ada yang terjadi secara otomatis,

Semuanya memerlukan proses.

Selagi kamu masih bernapas, manfaatkan waktumu

Untuk memahami hal-hal yang harus dipahami

Selagi masih bersama seorang Guru jangan hanya membisu

bertanyalah tentang segala hal yang rahasia,

yang membuatmu menjadi paham akan hakekat kehidupan dan hakekat kematian.

sempatkan berlatih masuk ke dalam diri

ke dalam kegelapan, ke dalam keheningan

sehingga kalian temukan suara keheningan

sehingga kalian temukan pekatnya kegelapan.

 

Selagi kalian masih terjaga, bacalah dan pahami

Ayat-ayat yang bertebaran di langit dan yang bersembunyi dalam dirimu.

Karena di situlah terbabar rahasia kehidupan.

 

Sesungguhnya yang sanggup memahami

semua ayat yang bertebaran di langit

Dialah yang terbesar di kerajaan Surga.

Piiip.. piiip.. piiip.. piiip… pip pip pip ipip pip pip pip…!”

 

Mpu Baryonim.