Waktu itu Yesus dan para muridnya, sedang mampir di rumah Zebedeus. Yesus yang sudah mulai populer, kehadiran Yesus membuat rumah Zebedeus penuh dengan para tetangga dan orang-orang ingin mendengar Yesus medar sabdo. Bahkan Nikodemus salah satu ahli kitab juga hadir, ingin menyelidiki apa sesungguhnya yang diajarkan Yesus. Namun begitu banyaknya animo masyarakat, Nikodemus terpaksa mendengarkan dari luar rumah Zebedeus.
Ketika khalayak sedang tertegun mendengar wedaran Yesus, tiba-tiba dari atap rumah Zebedeus, tampak seseorang yang sedang berbaring di tempat tidur, dikerek ke bawah bersama tempat tidurnya. Turun tepat di depan Yesus berada. Bersamaan dengan itu terdengar suara seorang wanita memohon. “Yesus, tolong sembuhkan saudaraku yang lumpuh itu. Aku tahu penjenangan seorang penyembuh. Tadi pagi aku lihat sendiri panjenengan menyembuhkan orang yang berpenyakit kusta.”
Semua yang hadir di tempat itu secara bergantian memandangi Yesus dan si lumpuh, yang tampak kuyu dan menderita. Yesus memandangi pemuda lumpuh itu. Muncul rasa belas kasihan dari dalam hatinya. Setelah memejamkan mata dan hening sejenak, Yesus menempelkan telapak tangan kanannya di ubun-ubun si lumpuh dan bersabda. “Dosamu sudah diampuni. Bangunlah.”
Semua orang penasaran. Semua mata menatap si lumpuh yang pelan-pelan mulai menggerakkan jari-jemari kedua tangan dan jari-jemari kedua telapak kakinya.
Terdengar gerutu dari salah satu pengunjung menanggapi kata-kata Yesus. “Wah.. Ini nggak bener.. Bukankah hanya Tuhan yang bisa mengampuni dosa? Yesus harus dilaporkan ke Mahkamah Agama.”
Meskipun gerutuan itu pelan. Namun sampai ke telinga Yesus. “Apa sulitnya bilang dosamu sudah diampuni? Bukankah sama mudahnya dengan mengatakan. Bangkitlah. Angkatlah tempat tidurmu dan melangkahlah pulang.” Satu jawaban yang ditujukan kepada seseorang yang menggerutu. Dan kepada si lumpuh..
Pelan-pelan si lumpuh berusaha bangun. Kemudian mencoba berdiri. Tubuhnya masih oleng. Namun akhirnya berhasil berdiri tegak. Lalu tiba-tiba bersujud dan menangis di kaki Yesus.”Terima kasih, panjenengaan telah memberi saya kesembuhan dan hidup baru. Terima kasih..” Dalam tangis bahagia si lumpuh merasakan suatu kekuatan aneh mengalir dalam dirinya. Ia berdiri lalu mengangkat tempat tidur yang selama ini setia menemani si Lumpuh. Dengan tertatih-tatih ia beranjak ke luar dari rumah Zebedeus.
Nikodemus melihat si lumpuh yang berjalan sambil memanggul tempat tidur butut itu. Dalam hatinya muncul rasa ingin tahu. Pikirnya: “Atas kuasa siapa Yesus bisa melakukan penyembuhan instan itu?” Nikodemus ingin sekali bisa berbicara empat mata dengan Yesus.
Namun tiba-tiba datang beberapa serdadu Romawi dengan pedang terhunus membubarkan kerumunan itu. Khalayak ketakutan, berhamburan kocar-kacir mencari selamat.
Zebedeus tanggap dengan situasi yang gawat itu. Ia tahu bahwa kedatangan serdadu Romawi itu akan menangkap Yesus. Dengan cekatan ia segera memalang pintu depan. Kemudian bergegas membukan pintu belakang yang merupakan pintu darurat. Yesus dan murid-muridnya segera meninggalkan rumah Zebedeus. Bersamaan dengan itu pintu depan mulai digedor-gedor dan didobrak oleh serdadu Romawi. Beberapa saat kemudian pintu berhasil dibuka paksa. Namun yang ada di dalam rumah hanya tinggalm Zebedeus, istrinya dan Maria Magdalena. Dengan kasar dan sangar serdadu Romawi itu memeriksa semua ruangan. Namun tidak menemukan Yesus. Serdadu Romawi dengan bersungut-sungut meninggalkan tempat itu.
Keinginan Nikodemus ingin bertemu dengan Yesus pun kandas. Di telinganya masih terngiang wedaran Yesus yang bagi Nikodeus memiliki makna yang dalam. Ia sangat terkesan dengan kepiawaian Yesus menjelaskan wedarannya.
Tiba-tiba Maria Magdalena yang telah menjadi murid Yesus bergegas akan meninggalkan rumah Zebedus. Nikodemus mengejar Maria Magdalena. Katanya.”Tunggu Lena! Kamu masih ingat aku?”
Maria Magdalena berhenti. Memandangi Nikodemus. “Ya saya masih ingat. Tapi maaf saya sudah ditinggal teman-teman saya.” Ketika ia akan melanjutkan langkahnya. Tangannya dipegang Nikodemus sehingga langkahnya terhenti.
“Tunggu sebentar Lena. Maafkan aku. Tolonglah aku.” Kata Nikodemus dengan nada memohon.
“Apa yang bisa saya lakukan untuk tuan?” jawab Maria Magdalena.
“Aku ingin bertemu empat mata dengan mas Yesus..”
Maria Magdalena kaget mendengar ucapan seorang Ahli Kitab yang kebanyakan membenci Yesus. Karena belakangan ini di mata masyarakat kecil, Yesus lebih populer daripada orang-orang Farisi dan para Ahli Kitab. Para pemuka agama Yahudi merasa tersaingi popularitasnya. “Apakah saya tidak salah dengar tuan? Bagaimana kalau pertemuan tuan dengan Yesus ketahuan masyarakat? Atau salah satu dari orang Sanhedrin? ” Kata Maria Magdalena.
“Oleh karena itu aku ingin bertemu empat mata, secara diam-diam. Aku yang akan mengatur tempatnya. Tolong Lena. Katakan pada gurumu aku ingin sekali bertemu dengannya.”
“Ketertarikan tuan itu karena, ajaran Yesus, mujizat Yesus, atau sekadar ingin tahu.”
Nikodemus bingung atas pertanyaan Maria Magdalena itu. Tetapi entah mendapat ilham dari mana ia menjawab. “Eh… tafsiran dia tentang kitab Taurat, memang agak lain. Tapi aku bisa menangkap kebenarannya. Aku harus bicara dengannya.”
Maria Magdalena melihat ketulusan Nikodemus dari sorot mata dan caranya bertutur kata. “Baik tuan, akan saya sampaikan pesan tuan kepada Guru.”
“Terima kasih M a r i a M a g d a l e n a” Katanya pelan. Dan baru terucap ketika Maria Magdalena telah berada dikejauhan.
Kemudian terdengar nyanyian burung Kedasih yang sejak tadi mengamati tingkah laku Nikodemus.
Wahai Nikodemus.. Sang ahli kitab dan sesepuh orang Farisi.
Rupanya setetes kesadaran itu telah membuka pikiranmu.
Sehingga terbersit niatan untuk bertemu dengan Yesus.
Namun kamu masih malu berterus terang.
Khawatir kalau harga dirimu direndahkan.
Seorang lansia berguru kepada seorang pemuda.
Hmm…
Takut ketahuan teman sejawatmu ‘kaum Sanhedrin?
Yang akan menghakimimu sebagai seorang ahli kitab yang murtad?
Telah terpetik niat baik untuk berguru.
Namun mentalmu belum benar-benar siap.
Hijab yang berupa rasa takut, rasa malu dan identitasmu sebagai Ahli Kitab
masih menutup mata nuranimu.
Mulailah menepis hijab-hijab itu Nikodemus.
Engkau masih membutuhkan ruwatan-ruwatan
berupa wedaran-wedaran yang sinengker.
Mengunyah narasi-narasi adhi kodrati.
“Piiip.. piiip.. piiip.. piiip… pip pip pip ipip pip pip pip…!”
Mpu Baryonim