Setelah gerombolan ganas itu lari tunggang langgang. Yesus menarik napas panjang sambil mengebas jubahnya yang terkena debu. Yesus mendekati Magdalena yang masih tertelungkup di tanah. Yesus mengulurkan tangannya membantu Magdalena bangkit dan duduk.
Maria Magdalena melihat ke sekeliling. Keringat masih membasahi dirinya. “Kemana mereka?” rintih Magdalena. Mukanya meringis merasakan nyeri di pinggulnya dan kedua kakinya.
“Mereka telah pergi.” Jawab Yesus, sambil duduk di samping Magdalena.
Magdalena, memandangi mata Yesus yang penuh kasih dan tak menghakimi itu. Lalu dengan rasa heran ia bertanya. “Kenapa Rabbi menolong saya?”
“Karena kamu memang membutuhkan pertolongan.”
“Tetapi saya manusia yang penuh dengan najis dan dosa..”
“Justru aku datang untuk orang-orang yang berdosa. Hanya orang sakit yang membutuhkan tabib. Hanya orang yang tak tahu jalan butuh tuntunan..”
“Tapi saya telah tenggelam dalam lumpur dosa. Terlalu banyak dosa yang telah saya lakukan.” Kata Magdalena dengan sedih dan penuh penyesalan.
Mendengar ucapan yang penuh penyesalan itu Yesus menanggapi. “Tenangkan hatimu Magda. Jangan terlalu risau dengan dosa yang telah kamu lakukan. Karena dosa semacam itu bisa diampuni.”
“Adakah dosa yang tak bisa diampuni?” Tanya Magdalena penasaran
“Ada. Dan itu adalah dosa yang paling berat.” Jawab Yesus lembut namun tegas.
“Lalu perbuatan macam apa itu Rabbi? ” kata Magdalena semakin penasaran.
“Sesungguhnya bukan pada perbuatan itu sendiri. Namun lebih kepada sikap batinnya, atau pada kesadarannya.”
Magdalena samasekali tidak menangkap apa makna kata-kata Yesus. “Maksudnya…?”
“Setiap perbuatan yang kamu lakukan tanpa kesadaran penuh, di sepanjang hidupmu, adalah dosa yang tak terampunkan. Karena tanpa ‘kesadaran’, manusia telah mati sebelum ajal datang. Hidup tanpa kesadaran adalah sia-sia. Barangkali secara kasat mata, manusia seperti itu kelihatannya hidup, tetapi hanya hidup-hidupan. Mereka hidup di alam fatamor-gana, dalam ilusi. Tetapi menganggap bahwa dirinya hidup di alam kenyataan.”Yesus berhenti sejenak, mengamati ekspresi paras cantik Magdalena, yang tampaknya belum paham dengan apa yang ia jelaskan. “Pahamkah apa yang aku maksudkan..?”
Magdalena menggeleng, tanpa berkedip matanya memandangi wajah Yesus yang memancarkan wasana harum menenangkan.
Yesus melanjutkan. “Usahakan selalu hidup dalam kesadaran disaat ini, di sini, disetiap aktivitas yang kamu lakukan. Lakukan segala hal dengan segenap akal budimu, dengan segenap hatimu, dan dengan segenap kekuatanmu. Misalnya kamu sedang makan, rasakan nikmatnya makanan yang kamu kunyah itu, pusatkan seluruh perhatianmu pada makanan yang kamu kunyah. Dan jangan biarkan pikiranmu melayang ke tempat lain. Sederhana bukan?”
Magdalena mengangguk-anggukan kepalanya, namun mukanya belum menampakan kalau dirinya telah memahami maksud Yesus. “Kedengarannya mudah…Tapi mungkin bagi orang seperti aku ini, cukup sulit menjalankannya.”
“Tidak sulit jika dilatih sedikit demi sedikit. Dan yang penting harus memiliki kemauan yang kuat. Memang sumua kebajikan luhur itu memerlukan proses panjang dan kesungguhan hati. Tanpa itu tak akan ada jalan keselamatan.”
Burung Kedasih yang sejak tadi mengamati pembicaraan itu. Menyanyikan lagu yang ditulis pada 2000 tahun kemudian oleh Titiek Puspa. Seorang Penyanyi dan sekaligus penulis lagu:
Ada yang membenci dirinya
Ada yang butuh dirinya
Ada yang berlutut mencintainya
Ada pula yang kejam menyiksa dirinya
Ini hidup wanita si Kupu-kupu malam
Bekerja bertarus seluruh jiwa-raga
Bibir senyum, kata halus merayu, memanja
Kepada setiap mereka yang datang
Dosakah yang dia kerjakan?
Sucikah mereka yang datang?
Kadang dia tersenyum dalam tangis
Kadang dia menangis di dalam senyuman..
Burung Kedasih mengakhirnya lagu Titiek Puspa.
Dilanjutkan dengan nyanyian khas Kedasih :
Wahai Magdalena… berbahagialah kau
Kini jalan keselamatan telah terbuka dan ditunjukkan
Namun semua ini terpulang kepada dirimu…
Yesus dan Semesta menawarkan free will..
Seberapa sensitif nuranimu..
Seberapa besar tekadmu…
Biasanya dalam keterpurukan seseorang menemukan jalan keselamatan..
“Piiip.. piiip.. piiip.. piiip… pip pip pip ipip pip pip pip…!”
Mpu Baryonim.